..</em> ..</em> ..

Weekly Research

 

OSO Weekly 08-12 Jan 2018


Tanggal publikasi: 2018-01-08 11:09:26 WIB
Indonesia Market Review
Selama sepekan kemarin (02-05 Jan), IHSG secara akumulasi melemah tipis 0.03% di level 6,353.73. Lima dari sepuluh indeks sektoral ditutup dalam teritori negatif, dimana sektor keuangan dan manufaktur memimpin penurunan sebesar 1.00% dan 0.70%. Adapun sektor yang berhasil menguat yaitu sektor pertambangan dan industri dasar masing-masing sebesar 4.49% dan 2.57%. Sektor pertambangan mengalami kenaikan signifikan di pekan lalu seiring kekhawatiran pasar terkait konflik yang terjadi di negara produsen minyak terbesar dunia serta penurunan pasokan yang diatas ekspektasi pada periode 29 Desember 2017. Saham-saham yang menjadi pemberat indeks sepekan kemarin diantaranya : BBRI, TLKM, BBNI, IIKP dan UNVR.
Penurunan pada IHSG merupakan koreksi wajar yang terjadi dikarenakan aksi ambil untung para pelaku pasar mengingat indeks telah mencetak rekor tertinggi baru hampir sebanyak sembilan kali sejak bulan Desember 2017.
Adapun rilisnya data inflasi bulan Desember sebesar 3.61% yang lebih rendah dibanding target pemerintah sebesar 4.3% nampaknya belum mampu menggerakkan indeks ke teritori positif.
Data inflasi bulan Desember tahun lalu dilaporkan sebesar 3.61% (YoY) sedikit lebih tinggi dibanding sebelumnya sebesar 3.30%. Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan pernyataan terkait cadangan devisa bulan Desember 2017 yang senilai USD 130 miliar lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya senilai USD 125.97 miliar, rincian lengkap cadangan tersebut rencananya baru akan dirilis pekan ini.
Pelaku pasar asing membukukan aksi beli bersih mingguan senilai Rp 1.13 triliun. Nilai tukar Rupiah terapresiasi sebesar 1.19% ke level Rp 13,395.

Global Market Review
Sementara itu, sepanjang pekan kemarin (02-05) mayoritas indeks utama AS secara akumulasi mencatakan kenaikan. Indeks Dow Jones menguat 1.85%, S&P terangkat 2.07%, dan Nasdaq naik 2.68%.
Penguatan indeks sepanjang pekan kemarin inline dengan optimisme pasar terkait perekonomian ditahun 2018. Pasar menilai dengan diterapkannya tarif pajak yang lebih rendah serta tingkat penganguran bulan Desember yang dilaporkan stabil di 4.1% serta tunjangan pekerja yang meningkat 2.5% dibanding tahun 2016 akan mampu memberikan keuntungan yang lebih besar ditahun ini.
Adapun pelaku pasar juga optimis dengan kebijakan Federal Reserve yang rencananya akan terus konsisten menjaga stabilisasi sistem moneter dengan menaikkan suku bunga yang bertahap. Selain itu, kenaikan suku bunga ini rencananya baru akan dilaksanakan seiring pertumbuhan ekonomi global yang juga mengalami kemajuan.
Berikut beberapa rilis data ekonomi pada pekan kemarin : Balance of trade bulan November defisit senilai USD 50.5 miliar lebih besar dibanding defisit sebelumnya yang senilai USD 48.9 miliar, ISM non-manufacturing business activity di level 57.3 turun dari periode sebelumnya di level 61.4, serta data tenaga kerja Nonfarm payrolls bulan Desember sebanyak 148.000 pekerjaan lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebanyak 252.000 pekerjaan. Markit service PMI final bulan Desember di level 53.7 lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di level 52.4. Kemudian data komoditas dari EIA natural gas stock per 29 Desember turun sebanyak -206 Bcf lebih besar dibanding penurunan pasokan sebelumnya sebanyak -112 Bcf, EIA Crude Oil stock change per 29 Desember sebesar -7.41 juta barel turun lebih banyak dibanding sebelumnya sebesar -4.60 juta barel. ISM manufacturing new order bulan Desember di level 69.0 llebih tinggi dibanding sebelumnya di level 65.5, ISM manufacturing PMI bulan Desember di level 59.7 angka ini naik 1.5 dibanding bulan sebelumnya, kemudian data construction spending AS bulan November tumbuh 0.8% (mom) sedikit melambat dibanding pertumbuhan sebelumnya 0.9%.

Commodity Market
Dari pasar komoditas, mayoritas harga bergerak menguat pada perdagangan pekan lalu, dimana kenaikan yang paling signifikan terjadi pada komoditas CPO, Kopi, dan minyak mentah dengan masing-masing sebesar 4.51%, 2.92% dan 1.97%. Adapun penguatan yang terjadi pada komoditas minyak mentah inlline dengan kekhawatiran pasar terkait konflik yang terjadi di negara produsen minyak terbesar yaitu Iran. Konflik tersebut semakin memanas serta telah menewaskan 21 orang. Adapun konflik tersebut dikarenakan aksi para pemuda iran yang menuntut pemerintah agar memperhatikan taraf hidup masyarakat serta inflasi di Iran yang tidak stabil atau terus mengalami peningkatan.

Market Outlook
Pergerakan IHSG selama sepekan ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh rilisnya rincian data cadangan devisa bulan Desember, Retail Sales bulan November, kemudian data ekspor dan impor bulan Desember dimana neraca perdagangan diperkirakan surplus sebesar US$ 0.91 miliar lebih tinggi dibanding surplus sebelumnya senilai US$ 0.13 miliar. Adapun secara teknikal IHSG sepekan kemarin ditutup melemah ke level 6,353.74. Stochastic berpotensi deadcross, RSI berada di area overbought dan MACD masih positif serta volume turun. IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kencederungan menguat di kisaran 6,190-6,395.

...download>> View pdf format>> back>>